Senin, 31 Desember 2012

Contoh Feature Human Interest



Ketika Letih Tak Kenal Waktu

Hidup merupakan sebuah tantangan bagi siapa yang menjalaninya. Tak kenal lelah, putus asa, dan terus maju. Seperti bapak yang bernama lengkap Supardi. Seorang petugas parkir  di salah satu Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, berpenampilan wibawa dan pekerja keras. Pekerjaan mulia inilah yang telah dilakoninya selama sembilan tahun dikampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD)  khususnya kampus  1 yang terletak di Jl. Kapas. Namun setelah sekian lama bekerja, dia dialih posisikan ke kampus 2. Asap, bau bahkan kebisingan dari banyak motor yang dia hadapi bukanlah rintangan baginya untuk tetap bekerja. Dengan seragam birunya setiap pagi mengatur mahasiswanya satu per satu.
Poniati, dialah yang menjadi seribu semangat bagi suaminya, istri yang selalu memberikan semangat tanpa batas. Bekerja sebagai buruh,  Poniati kerjakan demi meringankan beban suaminya. Melihat kondisi keluarga yang sederhana tak merubah sifat Poniati, dia tetap merasa berkecukupan. Buruh, sementara hasilnya tak sebanding dengan harapannya, tak membuat wanita satu ini merasakan kebosanan, walaupun tak selalu didampingi suaminya dalam bekerja. Bagaimana pun bekerja sebagai serabutan tak mudah, entah mengapa bekerja serabutan tak pernah menghambatnya, karena selalu tersimpan dibenaknya, diusia sekarang mencari kerja layak dan mapan tak semudah membalikkan telapak tangan. Hatinya terkadang merasa ciut melihat kondisi untuk membahagiakan kedua anaknya kelak. Oci Rosidah yang sudah menginjak kelas 3 SMK dan adiknya Khusnul Khotimah masih mengenyam di bangku SMP kelas 3. Sering berfikir, Supardi dan Poniati ingin membiayai kedua anaknya sampai ke perguruan tinggi. Walaupun hanya sebuah harapan bagi mereka, namun keduanya tetap keras untuk menyekolahkan anak-anaknya. Karena pendidikan merupakan prioritas utama baginya.
Langkah niatnya selalu diiringi dengan doa dan harapan. Hidup selalu akan terus berjalan, tanpa seseorang itu menuggu. Hasil yang diperoleh tergantung bagaimana kita mendapatkannya.
Bapak yang berusia 39 mengaku selama bekerja mendapatkan gaji sekitar 1 juta. Dari penghasilan itulah dia harus menghidupi keluarganya. “bekerja sebagai petugas parkir adalah kewajiban saya mbak, untuk menyekolahkan anak-anak saya” ujar bapak dari dua anak tersebut.  Tidak ada pekerjaan yang dilakoninya selain sebagai petugas parkir. Senyum ramah selalu terpancar dari  wajah bapak yang bertempat tinggal tak jauh dari tempat dia bekerja. Kegigihan dan rasa semangat untuk tetap menjadi kepala keluarga yang bisa menafkahi keluarganya patut dijadikan  cermin motivasi khususnya kita sebagai pembaca.


Sosok bapak yang bertempat tinggal di Tegal Cetak, Umbulharjo, ini mampu membuktikan bahwa dari kerja kerasnya dia dapat mencukupi semua kebutuhan keluarganya.  Suka duka selama menjalani profesinya begitu banyak menghampirinya. “Mahasiswanya susah untuk prkir dengan tertib dan teratur” jelas bapak ketika ditemui ditempat parkir. “Walaupun susah tetapi ada beberapa mahasiswa yang ramah dan bersikap sopan, tambahnya sambil tersenyum kecil. “Semangat dan kegigihan harus di landasi dengan tujuan dan kemauan yang kuat”, tambahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar